Kamis, 16 Juni 2011

percantik gigi dengan behel

Anda sungkan tersenyum lebar karena gigi kurang rapi? Mungkin saatnya  mendongkrak rasa  percaya diri dengan mengenakan behel untuk memperbaiki penampilan gigi agar nampak lebih cantik.
Menjaga penampilan gigi agar senantiasa rapi bagi wanita dapat diatasi dengan mengenakan behel. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang tata letak giginya sudah bagus untuk mengenakan behel atau braces (kawat gigi).
Banyak alasan yang membuat mereka memutuskan untuk memasang behel. Mulai dari masalah karena gigi maju atau bertumpuk, tapi ada juga yang memakai behel hanya sebagai tren saja. Namun, biasanya orang memasang behel karena memiliki kondisi gigi maju (prostutif) atau crowding (bertumpuk). Ada juga kasus yang giginya telah rapi, tapi tetap mengenakan behel karena kurang Pede (percaya diri).
Ada beberapa keuntungan mengenakan behel, yaitu gigi rapi sehingga paras menjadi lebih enak dilihat. Gigi rapi bisa menghindari tidak terjangkaunya sela-sela gigi pada saat menyikat gigi, gigi lebih bersih dan bisa merubah rahang yang asimetris akibat kecelakaan.
Meski behel dapat membantu seseorang untuk selalu tampil lebih percaya diri dan sehat, namun untuk memasangnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Harga yang dipatok untuk masing-masing klinik bervariasi.
Setelah behel terpasang, ada perawatan per bulannya harus dilakukan. Hal ini dilakukan guna merawat dan menjaga penampilan behel agar senantiasa bekerja aktif. Untuk perawatan behel juga bervariasi, mulai dari Rp75 ribu (harga standar) sampai 500 ribu per satu kali kunjungan.
Sedangkan lama perawatan tergantung ringan atau berat kasus, bisa sekira satu tahun, bahkan lebih. Dengan catatan pasien rajin melakukan kunjungan sebulan sekali. Lama perawatan pada setiap individu itu berbeda-beda, karena ada yang kasusnya berat dan ada yang ringan. Selain itu, keberhasilan perawatan tergantung pada kerjasama antara pasien dengan dokter.
Uniknya, pemilihan warna dan bahan juga sangat beragam sesuai dengan keinginan. Tetapi tentu saja harga yang dikeluarkan pun relatif lebih mahal dari biasanya.
Ibe (31) salah satunya. Warga Jalan Setia Budi Medan ini mengaku giginya menggunakan behel untuk mendukung penampilannya. Setidaknya pekerjaannya sebagai seorang marketing di sebuah perusahaan properti menjadi sebuah alasan mengapa pemilik rambut panjang ini memasang behel pada giginya. “Pertama saya menyadari bahwa gigi saya bentuknya tidak beraturan. Makanya saya pasang behel gigi,” katanya kepada wartawan koran ini, Senin (2/11).
Awalnya, kata Ibe, ia hanya ingin merapikan bentuk giginya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini pun memilih kawat gigi biasa untuk merapikan giginya tersebut. Karena prosesnya harus berjalan 2 tahun, ia pun rajin mengechek giginya untuk melakukan perawatan giginya. “Namun karena melihat tren gigi behel kian berkembang, saya pun kemudian memasang behel. Pertama pasang behel bentuknya transparan, kemudian berubah lagi menjadi warna-warni,” tambahnya. Yang paling penting, katanya, banyak yang menyukai penampilan gigi behelnya karena menambah cantik penampilan. (del)
Harus ke Dokter Spesialis Orthodonti
Bila Anda ingin memakai behel, pastikan bahwa gigi Anda memang rusak. Jangan hanya karena ingin ikut tren atau gaya. Sebab memakai behel tidak semudah kelihatannya. Orang yang boleh mengenakannya adalah mereka yang memiliki gigi yang letaknya tidak pada tempatnya. Atau, gigi bertumpuk dan berjejal-jejal sehingga kekurangan tempat, tumbuh terlalu jarang sehingga ada celah di antara gigi-gigi, atau letaknya terlalu maju atau mundur. Karena fungsi behel adalah merapikan gigi.
Dalam pemasangan behel, hanya dokter gigi tertentu yang bisa memasangkan behel yakni dokter spesialis orthodonti. Jadi jangan sembarangan pergi ke dokter gigi pastikan dia merupakan ahlinya.
Sebelum mengenakan behel ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan. Yakni, membuat cetakan model gigi, memotret gigi, merontgen gigi, kepala, serta wajah pasien secara keseluruhan. Ini semua agar perawatan benar-benar sempurna dan tidak asal-asalan karena biasanya ketika dipakaikan behel, wajah jadi berubah. Biasanya gigi yang menumpuk-numpuk terjadi karena rahang kecil, jadi giginya harus dikurangi beberapa.
Setidaknya ada beberapa efek yang ditimbulkan bila mengenakan behel yakni, rasa sakit ketika pertama kali menggunakan behel. Lubang gigi dan karang gigi akan cepat terjadi karena tidak menyikat menyikat gigi dan menjaga kebersihan mulut. Belum lagi efek pada jariangan lunak, terutama pada gusi bibir dan pipi lebih mudah timbul radang gusi dan sariawan.
Beberapa hal yang wajib dilakukan bila memakai behel. Seperti, rajin membersihkan gigi setiap makan, selalu sediakan tusuk gigi. Serta jangan lupa membawa sikat gigi untuk bersihkan sisa-sisa makanan yang nempel di bracket. Gunakan sikat gigi khusus untuk perawatan orthodonti atau sikat gigi anak-anak, yang bulu sikatnya lembut agar tidak merusak bracket. Kontrol gigi sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Bila memakai karet elastik atau head gear, pasang sesuai dengan petunjuk dokter gigi. (ila/net)
drg Atmawijaya, RSUP Adam Malik
Menambah Percaya Diri
Banyak pasien perempuan yang melakukan permintaan untuk pemasangan behel gigi dengan alasan demi kecantikan. Selain itu akan menambah lebih percaya diri. Demikian dikatakan drg Atmawijaya. ”Biaya pemasangan behel gigi tidak berbiaya murah. Biaya tergantung jenis behel yang ingin dipasang, termasuk jenis dokter gigi yang dipercayai untuk memasang behel tersebut,” ujar dokter gigi yang bertugas di RSU Adam Malik Medan ini.
Untuk pemasangan behel gigi, sambungnya, biasanya harganya dibanderol berkisar antara Rp5 hingga Rp6 jutaan. Sedangkan pemasangan behel warna-warni maupun behel transparan bisa mencapai puluhan juta. Proses lama pasangnya hingga 2 tahun lamanya. “Selain itu harus rutin melakukan pemeriksaan gigi ke dokter gigi. Tak ada efek samping dari pemasangan behel pada gigi tersebut. Yang paling populer itu adalah behel transparen karena unik dan tak begitu terlihat,” pungkasnya.
Continue Reading...

jenis behel gigi

Behel atau lazim disebut kawat gigi telah dikenal sejak lama sebagai alatterapi gigi, yaitu merapikan gigi. Seiring dengan perkembangan jaman, kawat gigi pun terus berevolusi, memperbaiki kekurangannya dan menyempurnakan sistemnya, sehingga terapi perbaikan struktur gigi menjadi lebih cepat dan efektif.




Saat ini dikenal 2 jenis kawat gigi, yaitu berupa kawat cekat (kawat permanen) atau kawat retainer (kawat lepasan), dan keduanya memiliki predikat sama, yaitu barang mahal! Mungkin karena bahan yang digunakan memang pilihan, dan jarang, sehingga hasilnya sampai ke tangan pasien mahal. Kawat cekat berupa manik-manik yang ditempel semi-permanen pada tiap gigi sebagai kerangka kawat yang akan dipasangkan. Dan sekarang, kawat cekat ini yang sedang populer digunakan para dokter gigi untuk terapi pasien yang ingin merapikan giginya karena berbagai macam dan jenis yang ditawarkan dari kawat cekat ini, juga harganya yang bervariatif mulai dari 3juta sampai 20jutaan!
Memang tiap sistem kawat cekat memiliki keunggulan masing-masing menurut rancangannya, juga bentuk yang kini mulai diarahkan dengan estetika mulut, ada yang berbahan porselin, platina, dan lain sebagainya, serta jenis kawat penarik yang digunakan, membuat variasi harga yang berbeda-beda untuk tiap produk.

Namun variatifnya produk behel ini sekarang mulai bergeser dari sebuah alat terapi menjadi trend asesoris layaknya mode. Sampai kadang fungsi utamanya sendiri yang merupakan alat terapi untuk merapikan struktur gigi yang kurang bagus terlupakan, menjadi sebuah perhiasan gigi yang menempel. Tampaknya para produsen behel atau kawat gigi juga jeli membaca pasar, mereka mulai melepaskan produk-produk behel yang bervariatif dan beraneka ragam, dari kawat porselin transparan yang unik,hingga platina berkaret warna-warni, dan ini menjadi suatu ukuran trend tersendiri pada pemakainya.
Nampaknya kawat gigi kini mulai menjadi salah satu bentuk tren terutama dikalangan orang muda. Dahulu, orang yang memakai kawat terkesan memalukan, namun sekarang, remaja malah bangga memakainya.


Behel standar memiliki disain ketebalan, kemiringan, dan alur kawat sama untuk semua gigi. Behel standar sangat membutuhkan keahlian operator untuk menggerakkan gigi mencapai posisi yang ideal. Harga yang relatif murah menjadi kelebihan behel standar. Sedangkan behel terprogram merupakan behel yang memiliki ketebalan, kemiringan, dan alur kawat yang sudah didisain berdasarkan posisi ideal masing-masing gigi, sehingga bila digunakan akan lebih mudah mencapai hasil yang memuaskan, terutama behel yang terprogram sepenuhnya 
Continue Reading...

bahaya pemasangan kawat gigi

MEMASANG kawat gigi sebagai upaya memperbaiki fungsi kesehatan dan estetika kini telah banyak dipilih. Namun begitu, minimnya pengetahuan masyarakat tentang kedokteran gigi kerap menimbulkan masalah. Tak sedikit ditemukan kasus malpraktik dari oknum dokter gigi atau orang yang mengaku kompeten dalam bidang gigi.

Untuk mengantisipasi adanya kerugian dalam hal praktik pemasangan kawat gigi, Ketua Umum Ikatan Ortodontis Indonesia (Ikorti) Prof Dr Eky Soeria Soemantri, SpOrt menyarankan masyarakat lebih cermat memilih pelayanan pemasangan kawat gigi. "Banyak dokter gigi atau orang yang mengaku ahli gigi yang sebenarnya tak kompeten melakukan pemasangan kawat gigi. Karena salah prosedur akibatnya bisa membahayakan pasien. Hati-hatilah dalam memilih perawatan," ujar Prof Eky di Jakarta, Kamis (29/5).

Supaya tidak salah pilih, kata Prof Eky, ada beberapa cara sederhana yang dapat dijadikan panduan. Yang paling mudah adalah mengetahui bahwa dokter yang berpraktik memiliki gelar spesialis ortodontis atau disingkat SpOrt. "Seorang dokter gigi harus menjalani pendidikan tambahan 3 hingga 4 tahun untuk mendapat gelar ini," ujarnya.

Ortodontis merupakan salah satu dari tujuh cabang kedokteran gigi. Yang tercakup dalam ortodontis adalah oklusi atau terkatupnya gigi geligi atau kedaan di mana gigi rahang atas bertemu rahang bawah. Kelainan oklusi (maloklusi) dapat dibagi menjadi tiga tingkat, mulai dari susunan tidak rata atau berjejal, gigi tonggos (overbite), hingga perkembangan rahang yang tak harmonis. Masalah-masalah seperti itulah yang bisa diatasi oleh seorang spesialis ortodontis.

Prof Eky menambahkan, dengan penanganan dokter spesialis yang tepat, tujuan pengobatan tentu akan bisa tercapai. Lama perawatan dan pemasangan gigi bervariasi, yakni 1-3 tahun dengan waktu kontrol setiap 3-5 minggu.

"Namun bila datang ke orang yang salah, tentu akibatnya bisa sangat bahaya. Jangan main-main karena dampaknya bisa seumur hidup. Kepala bisa pusing-pusing, gangguan pada rahang, dan biasanya lebih sulit diperbaiki," katanya.
Setiap bulannya, Prof Eky mengaku selalu menerima pasien yang harus diperbaiki atau dirawat ulang akibat kesalahan dalam praktik ortodontis. "Setiap bulannya saya menerima tiga hingga lima pasien dari sekitar 20 pasien yang mengalami salah perawatan," tandasnya. [kesehatan.kompas.com]

Continue Reading...

Rabu, 15 Juni 2011

jenis jenis behel

Behel atau kawat gigi pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu bracket , kawat dan pengikat. Bracket adalah yang menempel pada gigi dan membentuk gigi-gigi tersebut, sedangkan pengikat berfungsi untuk mengikat bracket-bracket yang terdapat di gigi tersebut.
Sebelum memasang behel biasanya dokter gigi akan memeriksa kesehatan gigi pasiennya, jika terdapat lubang, maka akan ditambal terlebih dahulu, jika terdapat karang gigi, maka akan dibersihkan terlebih dahulu. Intinya gigi yang akan dibehel haruslah gigi yang sehat.
Bahan bracket yang biasa dipakai dokter gigi ada tiga, yaitu:
  1. Logam stainless steel, bahan ini memiliki kekuatan yang paling baik dan dapat membentuk gigi dengan kuat
  2. Emas 24 karat, bahan ini khusus untuk pasien yang memiliki alergi terhadap logam
  3. Porselin, untuk memperoleh tampilan behel yang transparan
  4. Krital safir, bracket yang paling transparan disbanding bahan lain.
Sedangkan pengikat biasanya terbuat dari karet dan dapat diganti warnanya sesuai permintaan pasien.
Continue Reading...

sikat gigi buat yang di behel


Fixed orthodontic atau lebih dikenal dengan “Behel” adalah alat ortho yang dicekatkan langsung pada gigi. Karena bentuknya rumit, plak gigi jadi lebih mudah terbentuk. Selain itu juga meningkatkan resiko karies (yang nantinya bikin gigi jadi bolong), gingivitis (radang pada gusi), dan penyakit periodontal (penyakit pada jaringan pendukung gigi).
Adanya behel, yang menempel pada gigi-gigi, akan menyulitkan untuk membersihkan gigi. Maka dari itu untuk pemakai behel, ada sikat gigi khusus orthodontic.
Bedanya dengan sikat gigi biasanya adalah…  pada sikat gigi ortho, baris tengah bulu sikat lebih pendek dibandingkan bulu sikat pada ke dua pinggirnya, ini berfungsi untuk membantu penyingkiran plak disekitar bracket.
Ini salah satu contohnya. Merk oral-B. Bisa di beli di apotik, atau di klinik dokter gigi, dengan harga sekitar 20 ribu. Karena merk ini banyak jenis sikat giginya, untuk ngebedainnya liat aja bungkus nya. Pada bungkus sikat gigi, ada tulisan “Ortho brush”.

Continue Reading...

Selasa, 14 Juni 2011

tips bagi kamu yang akan pakai behel

Buat kamu-kamu yang sekarang lagi berencana pakai behel alias kawat gigi ataupun yang sudah pakai, H4T mau bagi-bagi tips nih.


Gigi yang tertata rapi memberikan kita rasa percaya diri tentunya. Senyum jadi lebih manis dan nggak bikin kita diketawain orang. Meski nggak enak dan merepotkan, tapi behel / kawat gigi akan sangat membantu untuk merapikan gigimu. Apalagi sekarang banyak behel yang ber-desain imut dan manis.
Pakai Karena Kebutuhan
Ini sangat penting bila kamu ingin memakai behel pastikan bahwa gigi kamu memang rusak. Jangan hanya karena ingin ikut tren atau gaya kamu ikut-ikutan memakainya karena memakai behel tidak semudah kelihatannya. Orang yang boleh mengenakannya adalah mereka yang memiliki gigi yang letaknya tidak pada tempatnya, bertumpuk dan berjejal-jejal sehingga kekurangan tempat, tumbuh terlalu jarang sehingga ada celah di antara gigi-gigi, atau letaknya terlalu maju atau mundur. Karena fungsi behel adalah merapikan gigi.

Dokter Khusus
Hanya dokter gigi tertentu yang bisa memasangkan behel yakni dokter spesialis orthodonti. Jadi jangan sembarangan pergi ke dokter gigi, pastikan dia merupakan ahlinya.

Jenis Behel/Kawat Gigi
Ada berbagai jenis behel ada yang terbuat dari metal, clear/transparan yang berwarna seperti warna gigi. Untuk clear, bahannya bisa terbuat dari composite, porselin, atau plastik. Atau ada juga behel dengan penahan karet/karet pengikat bracket (kotak yang ditempel di gigi) ini paling disukai oleh kaula muda karena bantalan karetnya bisa berwarna-warni.

Tahapan Pemakaian
Sebelum mengenakan behel ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan yakni, membuat cetakan model gigi, memotret gigi, merontgen gigi, kepala, serta wajah pasien secara keseluruhan. Ini semua agar perawatan benar-benar sempurna dan tidak asal-asalan karena biasanya ketika dipakaikan behel wajah jadi berubah. Biasanya gigi yang menumpuk-numpuk terjadi karena rahang kecil, jadi giginya harus dikurangi beberapa.

Efek Behel
Setidaknya ada beberapa efek yang ditimbulkan bila mengenakan behel yakni, rasa sakit ketika pertama kali menggunakan behel. Lubang gigi dan karang gigi akan cepat terjadi karena tidak menyikat menyikat gigi dan menjaga kebersihan mulut. Belum lagi efek pada jariangan lunak, terutama pada gusi bibir dan pipi lebih mudah timbul radang gusi dan sariawan.

Wajib Dilakukan
Ada beberapa hal yang wajib dilakukan bila kamu menggunakan behel yakni, rajin membersihkan gigi setiap makan, selalu sediakan tusuk gigi. Serta jangan lupa untuk membawa sikat gigi untuk bersihkan sisa-sisa makanan yang nempel di bracket. Gunakan sikat gigi khusus untuk perawatan orthodonti atau sikat gigi anak-anak, yang bulu sikatnya lembut agar tidak merusak bracket. Kontrol gigi sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Iris kecil-kecil semua makanan yang masuk dan kunyah secara perlahan-lahan. Bila memakai karet elastik atau head gear, pasang sesuai dengan petunjuk dokter gigi.

Hal Yang Dilarang
Mencoba melepas atau menyetel kawat gigi yang sudah dipasang karena bisa merubah susunan yang telah ditetapkan. Memakan permen karet, permen keras, daging yang liat, keripik, kerupuk yang keras. Mengutakatik sendiri bracket yang lepas atau kawat yang menusuk gigi. Ini sangat berbahaya hubungi dokter untuk penangulangannya.
Continue Reading...

tips merawat gigi yang di behel

Tips Merawat Gigi Ber-Behel

Behel atau juga dibilang brekets/Braces (sebetulnya brekets adalah nama karet yang menempel pada besi yang menempel pada gigi kita), adalah salah satu bentuk perawatan gigi, biasanya siapa saja yang merasa perlu merapikan giginya akan disarankan untuk perawatan menggunakan kawat gigi, dari yang lepasan atau cekat/permanen yang sering di sebut BEHEL.



Saya sendiri saat ini dalam perawatan menggunakan Behel, meskipun belum mencapai setahun, tapi rasanya ingin membagikan pengalaman dan sedikit info buat siapa saja yang berencana atau sedang melakukan perawatan dengan BEHEL (terutama buat pemula, hahaha)


Penggunaan awal behel
Banyak yang bilang Pasang behel bisa bikin kurus, males makan, sering sariawan.
Sebenarnya penderitaan yang akan dirasakan amat sangat cuma 2 minggu pertama kok krn mulut ga terbiasa dengan benda asing di gigi kita, jadi bisa timbul sariawan. Tapi bisa disiasati dengan wax ortho (berupa lilin untuk menutupi bagian yang tajam) atau salep yang namanya Salcoceryl (dioleskan pada bagian sariawan atau luka yang diakibatkan gesekan besi pada ruang mulut kita).
Tapi yang perlu diingat, kalo lagi sariawan jangan banyak menggunakan Albothyl, karena obat tersebut akan membuat kulit mulut kita melepuh dan mematikan syaraf kecil kita, bayangkan kalo dipake dalam jangka waktu lama?? ga mau kan mulut kita nati rasa?? mending pake yang aman aja...
Untuk masalah males makan itu karena pada saat gigi ditarik pasti rasanya ngilu2 kalo gigit sesuatu, terutama di awal2 kontrol. Tapi setelah beberapa hari pasti udah ga lagi, apalagi makanannya enak lupa deh kalo pake behel (hihihi…, dasar emang lupa sama sakit klo nemu yang enak ;p), tapi ya sebetulnya sih, gw salah satu orang yang terkena imbas turun beray badan akibat Behel, tapi no matter kok, yang penting sehat dan gigi lebih rapi, iya ga?? ;)
Biar Behel kita awet hindari makanan yang keras-keras seperti kacang ,wortel mentah, batu, kayu (loh loh salah ya hehehe..) Kalo makan juga sebaiknya dipotong terlebih dahulu, jangan memotongnya pake gigi kita soalnya behel kita bisa lepas sebelum waktunya atau breketsnya copot, duhh ga asik kan klo salah satu karetnya copot???
Kenapa sih repot amat yah??? ya secara behel ga bisa dipakai lagi kalo uda dicopot karena uda ada lemnya, jadi harus diganti baru. Kadang ada dokter yang baik yang ga mencharge biaya tambahan dengan copotnya behel, tapi ada juga yang mencharge biaya lumayan.. Sayang khan…

Continue Reading...

tips memakai behel

Apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan pertumbuhan gigi, maka memakai behel merupakan cara ampuh untuk merapikan pertumbuhan gigi anda secara merata. Pemakaian behel sangat tepat untuk anak/remaja, karena pertumbuhan gigi masih bisa ditekan. Memakai behel dalam keseharian juga memerlukan perawatan khusus. Berikut ini adalah tips memakai behel gigi:
  1. Menyikat gigi. Ketika akan menyikat gigi, gunakan sikat gigi dengan bulu yang lembut. Cara menyikat gigi yang baik ketika menggunakan behel adalah sikat turun dari atas dan kemudian naik dari bagian bawah pada setiap gigi dengan kawat gigi. Setelah itu, kembali menyikat gigi anda menggunakan proxabrush, sikat yang dirancang khusus untuk membersihkan antara dua kurung behel gigi. Cara menggunakannya hampir sama seperti menyikat gigi yaitu masukkan sikat turun dari atas dan kemudian naik dari dasar antara dua kurung.
  2. Makanan yang harus dihindari ketika memakai behel gigi yaitu makanan yang keras atau sulit untuk dikunyah, makanan yang kenyal seperti gula-gula atau karamel, Jagung rebus, popcorn, kacang-kacangan, dan wortel. Selain itu, hindari juga untuk makan es atau permen karet.
  3. Ketika memakai kawat gigi, anda masih bisa mengkonsumsi makanan kesukaan jika dipotong terlebih dahulu menjadi potongan-potongan kecil sehingga lebih mudah dikunyah.
  4. Merawat Behel gigi. Selain merawat dan menyikat gigi, anda harus merawat dan menggosok behel. Bersihkan paling tidak sehari sekali atau seminggu sekali dengan menggunakanSekali sehari atau paling tidak seminggu sekali, bersihkan behel dengan merendamnya kedalam pembersih gigi. Setelah itu rendam sebentar kedalam air hangat lalu bilas dengan air biasa sebelum memasangkan lagi ke dalam mulut anda.
  5. Bermain Olahraga Ketika Memakai Behel Gigi. Ketika berolahraga dengan memakai behel, lebih baik untuk menggunakan mouthguard yang telah dirancang khusus. Mouthguard ini terbuat dari plastik tahan lama dan dirancang agar sesuai nyaman di kawat gigi anda dan akan melindungi jaringan lunak dalam mulut.
Itu adalah Tips memakai behel gigi, semoga bermanfaat bagi anda
Continue Reading...

usia berapa bisa di behel

"Umur berapa sih anak boleh pakai behel?"
"Kalau masih ada gigi susunya apa boleh pakai behel?"

Perlu kita samakan persepsi terlebih dahulu... apa sih yang dimaksud orangtua dengan istilah "pakai behel" itu?
Istilah behel dengan warnanya yang colorful itu dalam kedokteran gigi disebut juga dengan perawatan ortodontik cekat atau Fixed Orthodontic ... 

Apa gunanya behel?
Gunanya adalah untuk merapihkan gigi yang posisinya tidak teratur.

Dalam kedokteran gigi terdapat 2 jenis perawatan ortodontik yaitu dengan alat lepasan (removable appliance) dan alat cekat (Fixed appliance)

Apa beda antara alat lepasan dan cekat?
Bedanya tentunya alat lepasan dapat dilepas dan dipasang sendiri oleh pasien, sedangkan alat cekat, akan selalu menempel pada gigi.

Selain itu berbeda pula hasil maupun tujuan pemakaian alat tersebut.
Alat lepasan hanya memberikan hasil pergerakan gigi yang terbatas, oleh sebab itu seringkali diberikan untuk anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Sedangkan alat cekat memberikan pergerakan gigi yang lebih banyak daripada alat lepasan, yaitu ke 3 bidang, sehingga dapat digunakan baik pada anak maupun orang dewasa.

Lalu kapan anak-anak mulai boleh memakai alat cekat?
Timing yang tepat untuk penggunaan alat ortodontik cekat bagi anak berbeda-beda tiap anak.
Hal ini tergantung dari :

1. Keparahan kelainan oklusi gigi (maloklusi) anak
Terdapat beberapa kelainan oklusi gigi anak yang harus segera dikoreksi untuk mencegah keparahannya seiring anak makin beranjak dewasa. Misalnya : gigi seri rahang awah berada di depan gigi seri rahang atas, gigi tonggos, gigi berjejal (crowding) parah. Kelainan-kelainan tersebut perlu segera dikoreksi untuk mencegah keparahan lebih lanjut ketika anak dewasa, yang tentunya akan semakin kompleks dan membutuhkan biaya yang lebih besar.

2. Tahap pertumbuhan fisik dan pertumbuhan gigi tetap anak
Mulai usia 7 tahun biasanya anak sudah memiliki beberapa gigi tetap. Bila gigi-gigi tersebut sudah cukup untuk dilakukan pemasangan alat ortodontik cekat maka perawatan tersebut dapat dipertimbangkan.
Anak pada usia growth spurt (11-15 tahun) adalah saat pertumbuhan dan perkembangan yang pesat... ini merupakan golden time untuk perawatan ortodontik.

3. Pengaruh kelainan gigi tersebut terhadap interaksi sosial anak
Keadaan gigi yang parah seperti gigi yang tonggos seringkali mempengaruhi penampilan anak sehingga anak menjadi bahan olok-olok di sekolah. Bila hal ini terjadi perwatan ortodontik dapat dipertimbangkan.

4. Kooperatif anak
Pemasangan alat ortodontik cekat membutuhkan ketelitian yang akurat.
Anak harus dapat duduk diam & tenang selama pemasangan. Hal ini mustahil dilakukan pada anak masih takut ke dokter gigi ataupun yang memberontak dengan sikap tidak terkendali.

5. Kebersihan mulut anak
Pemasangan alat ortodontik cekat menyebabkan semakin mudahnya sisa-sisa makanan terjebak diantara gigi geligi dan semakin rentan pula mengalami gigi berlubang (karies) atau radang gusi (gingivitis). Oleh sebab itu anak harus mampu melakukan pembersihan gigi dengan baik.
Continue Reading...

bahaya pasang behel sembarangan

Secara mekanika, penggunakan kawat gigi pasti akan dapat menggeser susunan gigi yang ada sekarang. Gigi geligi yang ada akan dipaksa mengikuti lengkungan kurva kawat gigi yang tentunya berbentuk ideal. Masalahnya, apakah si pemasang memiliki cukup ilmu terkait (termasuk mekanika) untuk menentukan arah pergeseran yang benar dan pas.
Pada pemasangan kawat gigi yang dilakukan oleh orang yang telah cukup ilmunya, susunan gigi bisa dibuat rapih tidak hanya karena susunannya pada arah bersebelahan, tapi juga tinggi rendahnya gigi yang satu dengan lainnya. Kesalahan arah gerak bracket misalnya bisa saja membuat gigi seri Anda tidak sama tinggi rendah-nya! Sebuah kasus tragis yang pernah dijumpai pada seorang pasien yang ingin pasang ulang kawat gigi adalah kenyataan bahwa ternyata giginya pernah ‘dipaksa’ rata tingginya dengan cara dikikir! Percaya atau tidak, konon dia sebelumnya memasang kawat gigi pada seorang dokter gigi (yang pasti bukan Sp.Ort… karena tidak mungkin hal seperti itu dilakukan oleh orthodontist). Dengan kegilaan semacam itu, sebenarnya lebih meyakinkan kalau dia mengaku bahwa yang pasang adalah ahli gigi di pinggir jalan.
Kembali lagi ke soal perlu tidaknya ada gigi yang dicabut dalam proses perawatan orthodonti. Jika memang dari pemeriksaan visual terlihat tidak ada ruang gerak tersisa untuk merapihkan susunan gigi, memang seorang ahli orthodonti akan melakukan proses ekstraksi (bahasa kerennya untuk pencabutan gigi). Kodratnya, yang akan dicabut adalah gigi geraham kecil yang terdepan.  Hasil akhir yang diharapkan dari perawatan orthodonti tidak hanya asal terlihat rapih, tapi juga gigi berfungsi secara sempurna untuk mengunyah makanan. Jangan lupa, gigi juga harus simetris. Pada prakteknya tidak selalu pula gigi harus dicabut di kedua sisi, kanan dan kiri. Untuk kasus tertentu dengan lengkung gigi asimetris perlu dilakukan pencabutan gigi hanya pada satu sisi. Yang penting hasil akhirnya nanti gigi harus jadi simetris. Kadangkala ada pasien ‘bandel’ yang menolak untuk dicabut giginya, padahal orthodontist menyatakan bahwa ada giginya yang harus dicabut. Untuk yang ‘bandel’ seperti ini ya siap-siap saja giginya ngga akan benar-benar ‘beres’. Kembali ke gambar di atas, pada contoh kasus gigi dalam gambar tersebut sangat mungkin non-orthodontist akan mencabut gigi lain (bukan yang ditunjuk oleh tanda panah merah) untuk mempermudah pekerjaan yang mereka lakukan. Padahal gigi yang mungkin dicabut tersebut adalah gigi seri atau gigi taring!
Continue Reading...

variasi harga pada behel

Salah satu alasan kenapa ada banyak orang yang nekat pasang kawat gigi di pinggir jalan adalah karena harga yang lebih murah. Seringkali faktor harga murah ini hanya dicerna sebagai akibat lokasi tempat praktek tukang gigi yang hanya di kios alakadarnya, dibanding dengan tempat praktek dokter gigi yang lebih ‘mentereng’. Pada alternatif lain, bisa saja yang diadu adalah sesama dokter gigi. Pasang di dokter gigi spesialis orthodonti lebih mahal dibanding pasang di dokter gigi biasa.
Dari kacamata awam saya cuma bisa ajak mencerna hal sesederhana mungkin. Harga sepeda motor saja bervariasi. Motor buatan Jepang acapkali kalah bersaing dengan Motor buatan Cina jika dilihat dari faktor harga. Jika cuma karena harga dan asal punya motor, bisa dipastikan motor cina-lah yang dipilih. Tapi coba lihat, ada banyak orang yang mengerti bagaimana kualitas dari motor cina, akan tetap bertahan untuk menabung dan mengupayakan minimal motor Jepang lah yang harus mereka beli, bukan motor cina. Artinya, jika orang sudah paham soal kualitas, harga motor Jepang yang lebih mahal ngga ada masalah. Di lain sisi, ternyata motor Jepang juga kalah jika kualitas jika diadu dengan motor buatan Eropa, BMW misalnya. Singkat kata, seperti halnya membicarakan sepeda motor secara generik, begitu pula ketika kita bicara kawat gigi. Ada macam-macam kelas dan harga. Inilah titik awal lain yang harus diketahui oleh calon pengguna. Ada buatan Amerika, banyak pula yang made in China!
Sebagai ilustrasi tambahan, anggap saja hanya ada 2 pilihan barang untuk kawat gigi, A dan B, yang akan digunakan untuk merapihkan gigi seorang pasien dengan kasus yang sulit. Kawat yang A lebih murah di harga awal, misal X rupiah. Harus kontrol 3 minggu sekali. Perawatan bisa lebih dari 3 tahun. Sedangkan kawat B harganya ternyata 2x lipat dari A, jadi 2X rupiah. Harus kontrol 6 minggu sekali. Perawatan bisa diharapkan setahun selesai. Silahkan saja berhitung berapa biaya kontrol dan waktu yang bisa dihemat dengan menggunakan kawat yang B. Ini sekedar ilustrasi sederhana. Jangan lupa pepatah “ada harga ada kualitas” dan “harga ngga pernah bohong”.
Continue Reading...

prosedur pemasangan kawat gigi yang benar

Dari pengalaman yang sudah-sudah, sekali ini saya baru merasa bahwa pemasangan kawat gigi mengikuti sebuah proses yang secara teknis bisa diterima. Dulu ketika terjadi kesepakatan harga antara calon pasien dan dokternya, langsung saja diputuskan untuk pasang. Langsung pasang cetakan gigi, lalu melihat sekilas apakah ada gigi yang perlu dicabut atau tidak. Paling lambat 2 minggu kemudian gigi kita sudah bergaya dengan bracket melintang.
Pada prosesi pemasangan kawat gigi yang dilakukan oleh seorang orthodontist, proses diawali dengan pemeriksaan secara visual. Struktur gigi sang pasien dilihat dengan mata telanjang, untuk menentukan apakah penggunaan bracket memang disarankan atau tidak. Jika ya, jenis bracket seperti apa yang sesuai dengan kasus gigi pasien.
Proses selanjutnya pasien harus melakukan foto rontgen gigi, untuk melihat struktur gigi di dalam gusi. Pada beberapa kasus foto rontgen ini juga berguna untuk menemukan gigi yang tersembunyi (gagal keluar) karena berbagai sebab. Keberadaan benda keras (gigi) di antara akar-akar gigi yang lain tentunya akan menjadi penghambat gerak gigi yang lain. Lebih celaka lagi, bisa saja keberadaan gigi yang terpendam itu bisa menimbulkan akibat-akibat lain, termasuk yang terkait dengan kesehatan tubuh.
Jika ternyata terindikasi ada gigi yang seperti itu, seorang orthodontist akan meminta bantuan dokter gigi spesialis bedah mulut untuk melakukan operasi guna mengeluarkan gigi itu. Tergantung juga dengan tingkat masalah yang dihadapi, sebisa mungkin gigi yang dikeluarkan dengan cara memasang bracket dan ditarik perlahan-lahan selama proses perawatan kawat gigi. Jika kondisinya ekstrim, gigi tersebut akan dicoba untuk dikeluarkan langsung, lalu dipasang kembali pada gusi dengan posisi yang benar. Jika tidak memungkinkan, barulah pasien harus “say goodbye” ke gigi tersebut. Sepanjang yang saya ketahui dalam 2 tahun terakhir ini saja istri saya sudah pernah menemukan beberapa kasus yang seperti ini. Jadi hal seperti ini ngga aneh-aneh amat. Pada beberapa orang ternyata memang tidak semua gigi dewasanya tumbuh sempurna. Jadi, jika ternyata Anda memasang kawat gigi pada orang yang tidak meminta foto rontgen terlebih dahulu, sudah bisa dipastikan dia ngawur!
Selain foto rontgen, pasien juga harus difoto menggunakan kamera biasa. Orthodontist memerlukan foto pasien dalam beberapa pose; tampak depan diam, tampak samping diam, tampak depan senyum lebar, tampak samping senyum lebar. Selain itu dibutuhkan juga foto gigi pada rahang bawah saja, foto gigi pada rahang atas saja, foto gigi penuh dalam posisi menggigit sempurna. Foto-foto ini tidak hanya digunakan sebagai dokumentasi dan pembanding ketika proses perawatan sudah selesai, tetapi juga digunakan sebagai referensi untuk ‘melihat’ apakah ada kesalahan struktural pada bentuk wajah yang diakibatkan oleh susunan gigi pasien, misalnya wajah tidak simetris, atau monyong. Jika pada waktu memasang kawat gigi Anda tidak difoto dengan pose-pose tersebut, lagi-lagi itu artinya Anda salah kamar!
Ingat, salah satu hasil akhir yang harus dicapai dari perawatan orthodonti adalah membuat gigi bisa menjalankan fungsi kunyah dengan baik dan benar. Secara sederhana boleh diterjemahkan bahwa hasil akhir perawatan antara gigi-gigi di rahang atas haruslah bisa menggigit sempurna dengan gigi-gigi di rahang bawah. Artinya, tidak mungkin perawatan hanya pada gigi atas saja buat gaya-gayaan! Jika orang yang memasangkan kawat gigi hanya pada atas saja, banyak-banyaklah berdoa, karena itu sudah jelas si pemasang saja tidak paham fungsi perawatan.. hanya mengejar order 
Continue Reading...

jangan pasang kawat gigi sembarangan

Pemasangan bracket pada gigi atau yang lebih dikenal dengan kawat gigi alias behel adalah sebuah cara yang saat ini lazim dipakai untuk memperbaiki susunan gigi yang tidak rapih. Tapi tidak banyak orang yang tahu apalagi sadar bahwa penggunaan kawat gigi tidak hanya berhubungan dengan asal gigi rapih (estetika). Lebih dari sekadar rapih, penggunaan kawat gigi juga dimaksudkan untuk memperbaiki posisi gigi dalam fungsi pengunyahan makanan, memperbaiki penampilan wajah dan juga memperbaiki masalah lingual (seperti kesulitan dalam pengucapan huruf ‘s’) karena gigi depan bagian atas tidak mengatup sempurna dengan bagian bawah (bahasa kerennya: open bite). Penggunaan kawat gigi juga berhubungan dengan kesehatan; di mana gigi yang berjejal akan menyulitkan pembersihan plak dan sisa makanan, sehingga meningkatkan resiko terjadinya gigi berlubang dan peradangan gusi.
sebelum sesudah
Gambar di atas adalah contoh foto gigi pasien sebelum dan sesudah perawatan orthodonti. Tanda panah merah menunjukkan gigi yang harus dicabut. (properti: drg. Vera Susanti Z, Sp.Ort).
Maraknya tren penggunaan kawat gigi dan ditambah oleh ketidaktahuan masyarakat awam membuat  banyak orang ‘berani’ mempertaruhkan aset tubuh yang tak tergantikan itu dengan mempercayakan pemasangan behel pada sembarang orang(ingat, gigi orang dewasa yang telah tanggal atau rusak tidak akan tergantikan oleh gigi baru). Tren pemakaian behel yang dikaitkan juga dengan gaya hidup dan fashion membuat banyak orang nekat memakai walau sebenarnya tidak memerlukannya. Lebih gawat lagi, sebagian di antara mereka malah nekat memasang di tempat yang asal murah yang penting gaya!
catatan: tulisan ini merupakan tulisan populer (non ilmiah) yang ditulis oleh orang awam untuk bidang yang sedang dibicarakan (bukan dokter gigi), namun demikian saya sudah berpengalaman pakai kawat gigi 3x (tiga kali) karena harus diperbaiki kembali; dan sekarang ber-istri seorang dokter gigi spesialis orthodonti yang jadi teman ngobrol sebelum tidur.
Pada saat ini, pemasangan kawat gigi boleh dibilang sebagai bisnis yang menggiurkan. Pemasangan kawat gigi yang seharusnya hanya dilakukan oleh dokter gigi spesialis orthodonti (drg. Sp.Ort) pada kenyataannya dikerjakan juga oleh dokter gigi spesialis lainnya, atau malah oleh seorang dokter gigi non spesialis (general practitioner). Lebih edan lagi, mereka yang bukan dokter gigi pun nekat buka ‘praktek’ di pinggir jalan dengan label Ahli Gigi. Terima pasang kawat gigi.
Gigi Yang Baik
Karena saya bukan dokter gigi, tentu saya tidak membicarakan masalah penyakit gigi dan kawan-kawannya. Dalam kacamata yang sederhana kita bisa anggap bahwa gigi yang baik adalah gigi yang bersih, tidak bolong, tidak ada yang ompong, serta menjalankan tugasnya dengan sempurna.
Bagaimana tuh gigi yang sempurna menjalankan tugasnya? Tugas utama gigi untuk menggigit dan mengunyah makanan bukan? Cara termudah untuk memeriksanya adalah coba katupkan gigi rapat-rapat pada posisi yang paling nyaman (ngga dibuat-buat dengan menggeser rahang ke arah tertentu. just relax.). Perhatikan gigitan gigi mulai dari geraham atas bertemu geraham bawah secara sempurna untuk mengunyah, taring atas berpasangan dengan taring bawah untuk mengoyak, gigi seri atas bertemu dengan gigi seri bawah untuk menggigit. Normalnya rahang bawah akan sedikit lebih mundur dibanding rahang atas.
Pada kasus rahang bawah lebih maju dibanding rahang atas, orang awam sering menyebutnya sebagai cakil, atau cameuh, dan sejenisnya. Sebaliknya, bisa saja yang terjadi ternyata adalah rahang atas terlalu maju dibanding rahang bawah, sehingga gigi seri atas tidak bisa bertemu dengan gigi seri bawah, alias protusif. Pada kasus cakil dan protusif, sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa yang mengerjakan haruslah dokter gigi dengan spesialisasi orthodonti alias orthodontist.
Pengalaman Pribadi
Pada waktu SMP dulu (tahun 1989), keinginan menggunakan kawat gigi yang tidak didukung oleh pengetahuan yang memadai membuat saya ‘tersasar’ ke seorang spesialis bedah mulut. Waktu itu sebenarnya saya sudah berjalan (mungkin) ke arah yang benar, yaitu ke rumah sakit umum daerah. Tapi waktu tanya-tanya di poli-gigi, salah seorang perawatnya menyebut kalau mau pakai kawat gigi dengan drg. X, Sp.BM saja… Datang saja ke tempat prakteknya. Akhirnya saya pakai kawat gigi dengan sang spesialis bedah mulut. Waktu itu saya ‘kehilangan’ 2 buah gigi geraham kecil yang persis di belakang gigi taring, di sebelah kanan, bagian atas dan bawah. Semua gigi perlahan-lahan mulai digeser ke arah kanan, untuk mengisi ‘kekosongan’ yang diakibatkan hilangnya 2 buah gigi tersebut.
Hampir 2 tahun setelah perawatan memang sekilas gigi bisa dibilang rapih. Tapi kalau dilihat2 dengan seksama terlihat bahwa garis tengah gigi (di tengah-tengah gigi seri atas dan bawah) tidak terletak di tengah-tengah wajah, pada arah garis imajiner jika wajah kita dibagi 2 secara simetris. Coba-lah senyum ‘nyengir’ di depan cermin, perhatikan apakah garis tengah gigi Anda persis segaris dengan garis tengah wajah, yang ditarik dari titik tengah di antara 2 alis mata melewati puncak hidung dan dagu. Jadi kalau dilihat-lihat, gigi saya waktu itu miring ke kanan. Garis tengah gigi tidak persis segaris dengan garis tengah wajah (imajiner). Lambat laun juga dirasa gigi kembali “bubar jalan”. Sedikit demi sedikit mulai bergerak lagi dan kembali terlihat berantakan pada gigi bawah dan jadi “gigi bobo” pada gigi atas.
Pada waktu kuliah di Bandung, kembali saya mencoba mengulangi perawatan gigi menggunakan behel kembali. Waktu itu saya mendatangi klinik yang ada di kampus. Lagi-lagi oleh perawat yang ada direferensikan untuk datang kembali pada jadwal praktek dokter gigi yang menurutnya biasa mengerjakan pemasangan kawat gigi. Untuk kedua-kalinya, di tahun 1997 saya kembali memakai kawat gigi. Kali ini saya harus merelakan kembali 2 (dua) buah gigi geraham kecil yang di belakang gigi taring, kali ini yang di sebelah kiri, atas dan bawah.
Kali ini saya tidak tahu sebenarnya yang mengerjakan gigi saya ini seorang orthodontist atau spesialis lainnya? (mungkin saja lagi-lagi spesialis bedah mulut, atau prostodontist, atau periodontist, atau malah dokter gigi anak? hehehe)…. atau bisa saja dia ternyata seorang dokter gigi biasa alias GP? Yah, sama seperti orang awam pada umumnya, waktu itu saya sama sekali tidak perduli dan tidak mencari tahu. Bahkan berkali-kali kontrol gigi dengan rutin pun saya tidak pernah mencari tahu. Sampai sekarang pun saya juga tetap tidak tahu apa kompetensi dokter gigi saya waktu itu??! (Padahal sudah 13 tahun berlalu).
Singkat cerita, lagi-lagi hasil perawatan tersebut adalah nol besar. Memang waktu itu gigi saya rasanya rapih kembali. Tapi lagi-lagi seiring dengan waktu kembali terasa bergerak dan cenderung ‘rusak’ kembali.
‘Kesalahan’ bentuk gigi tersebut baru saya sadari dan pahami ketika menunjukkan susunan gigi pada seseorang yang kelak menjadi istri saya (drg. Vera Susanti Z, Sp.Ort). Waktu itu dia sedang mengambil spesialisasi Orthodonti di Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Universitas Indonesia. Di situ saya baru sadar bahwa gigi saya tidak menutup sempurna kalau sedang menggigit. Konsekuensi paling sederhana dari kondisi ini tentu adalah waktu mengunyah makanan tidak sempurna. Akibatnya tanpa disadari saya sering hanya menggunakan sebelah sisi untuk mengunyah makanan (geraham sebelah kanan saja yang bisa menggigit, sedang sebelah kiri tidak menggigit), sedangkan sebelahnya lagi tidak melakukannya. Konsekuensi lainnya adalah lagi-lagi garis tengah gigi juga tidak persis di tengah… Saya sadari juga bahwa ternyata ketika saya membuka mulut (rahang) lebar-lebar lalu menutup kembali kadang terdengar bunyi klek pada pangkal rahang dekat telinga. Serta beberapa kesalahan lain yang harus dikoreksi. Akhirnya, untuk ketiga-kalinya saya menggunakan kawat gigi, kali ini pada trek yang benar. Karena walau dikerjakan oleh orang yang sedang belajar untuk menjadi orthodontist, perawatan gigi saya dilakukan di kampus UI di bawah supervisi dokter-dokter spesialis yang benar, bahkan yang sudah bergelar profesor (Prof. drg. Faruk Husin, Sp.Ort, yang kemudian juga berkenan menjadi saksi pada pernikahan saya).

Continue Reading...

apa itu behel?

Apa Itu Behel ??



Behel atau lazim disebut kawat gigi telah dikenal sejak lama sebagai alat terapi gigi, yaitu merapikan gigi. Seiring dengan perkembangan jaman, kawat gigi pun terus berevolusi, memperbaiki kekurangannya dan menyempurnakan sistemnya, sehingga terapi perbaikan struktur gigi menjadi lebih cepat dan efektif.
Saat ini dikenal 2 jenis kawat gigi, yaitu berupa kawat cekat (kawat permanen) atau kawat retainer (kawat lepasan), dan keduanya memiliki predikat sama, yaitu barang mahal! Mungkin karena bahan yang digunakan memang pilihan, dan jarang, sehingga hasilnya sampai ke tangan pasien mahal. Kawat cekat berupa manik-manik yang ditempel semi-permanen pada tiap gigi sebagai kerangka kawat yang akan dipasangkan. Dan sekarang, kawat cekat ini yang sedang populer digunakan para dokter gigi untuk terapi pasien yang ingin merapikan giginya karena berbagai macam dan jenis yang ditawarkan dari kawat cekat ini, juga harganya yang bervariatif mulai dari 3juta sampai 20jutaan!
Memang tiap sistem kawat cekat memiliki keunggulan masing-masing menurut rancangannya, juga bentuk yang kini mulai diarahkan dengan estetika mulut, ada yang berbahan porselin, platina, dan lain sebagainya, serta jenis kawat penarik yang digunakan, membuat variasi harga yang berbeda-beda untuk tiap produk.
Namun variatifnya produk behel ini sekarang mulai bergeser dari sebuah alat terapi menjadi trend asesoris layaknya mode. Sampai kadang fungsi utamanya sendiri yang merupakan alat terapi untuk merapikan struktur gigi yang kurang bagus terlupakan, menjadi sebuah perhiasan gigi yang menempel. Tampaknya para produsen behel atau kawat gigi juga jeli membaca pasar, mereka mulai melepaskan produk-produk behel yang bervariatif dan beraneka ragam, dari kawat porselin transparan yang unik,hingga platina berkaret warna-warni, dan ini menjadi suatu ukuran trend tersendiri pada pemakainya.

Nampaknya kawat gigi kini mulai menjadi salah satu bentuk tren terutama dikalangan orang muda. Dahulu, orang yang memakai kawat terkesan memalukan, namun sekarang, remaja malah bangga memakainya.
Continue Reading...
 

behel (kawat gigi) Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon